Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Menyebarkan Virus Baik Toleransi dalam Keberagaman
Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Kesimpulan dan koneksi antarmateri yang ada di dalam modul 3.2 dengan materi lainnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.
Koneksi
Antar Materi Modul 3.2 membahas konsep Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
dengan menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang sebelumnya. Setelah
itu membuat kesimpulan dan mengoneksikan materi yang ada di dalam modul ini
dengan materi lainnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak hampi lima
bulan ini.
Koneksi
Antar Materi Modul 3.2 membahas konsep Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
dengan menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang sebelumnya. Setelah
itu membuat kesimpulan dan mengoneksikan materi yang ada di dalam modul ini
dengan materi lainnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak hampi lima
bulan ini.
Ekosistem Sekolah sebagai Institusi Pendidikan
Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan bentuk hubungan yang selaras dan harmonis.
Sekolah sebagai Komunitas
Sekolah sebagai sebuah komunitas memiliki beberapa hak seperti hak mengatur, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pendidikan agar efisien dan efektif sehingga penyelenggaraan pendidikan dapat tercapai berdasarkan standar pengelolaan pendidikan. Untuk itu membutuhkan partisipasi seluruh warga sekolah melalui pendekatan komunitas berbasis aset.
Pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development)
Asset-Based
Community Development (ABCD)
atau Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) adalah suatu pendekatan
menekankan pada nilai, prinsip, cara berpikir mengenai lingkungan, memberikan
nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang
dimiliki oleh komunitas. Disini menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat
memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset
tersebut agar menjadi lebih berdaya guna.
Buatlah
kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam
Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di
dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.
Dalam
pengelolaan sumber daya oleh pemimpin pembelajaran dalam pemanfaatan pada
aset-aset sekolah yang dimiliki harus dikelola dengan baik oleh seorang
pemimpin pembelajaran. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya yang ada di
sekolah menjadi modal utama dalam membangun kekuatan atau potensi dalam ruang
lingkup warga sekolah, lingkungan dan masyarakat, yang bermuara pada
kebermanfaatan bagi peserta didik.
Sumber
daya yang ada di sekolah saling berhubungan atau berinteraksi secara timbal
balik dan saling ketergantungan antara komponen dalam ekosistem. Dalam hal ini
adalah komponen biotik yaitu unsur yang hidup dan komponen abiotik, yaitu unsur
yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Faktor biotik (unsur yang hidup) dan
abiotik (unsur yang tidak hidup) ini saling berinteraksi satu sama lainnya
sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis.
Faktor-faktor
biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama
lainnya, seperti hubungan antara murid, kepala sekolah, guru, staf atau tenaga
kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua dan masyarakat
sekitar sekolah. Sedangkan faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam
menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah: keuangan dan
sarana dan prasarana termasuk media pembelajaran dan teknologi informasi
komunikasi.
Kekuatan
atau potensi sumber daya yang ada di sekolah sebagai pemimpin pembelajaran
harus dapat mengimpelementasikan kekuatan tersebut melalui konsep 7 modal utama
yang terdapat di sekolah, yakni 1) modal manusia, 2) modal fisik, 3) modal
sosial, 4) modal finansial, 5) modal politik, 6) modal lingkungan/alam, 7)
modal agama dan budaya.
Pengelolaan
tujuh modal utama oleh pemimpin pembelajaran sebagai aset/kekuatan sekolah.
Pemimpin pembelajaran juga harus dapat memanfaatkan pendekatan berfikir dalam
pengelolaan asset, diantaranya Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah
(Deficit-Based Thinking) akan melihat dengan cara pandang negatif. memusatkan
perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak
bekerja, dan Pendekatan Berbasis Aset (Asset-Based Thinking) adalah memusatkan
pikiran pada kekuatan positif, pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi,
yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.
Jelaskan
dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan
membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.
Pengelolaan
sumber daya yang tepat dan dapat mendorong pada proses pembelajaran di kelas
menjadi lebih berkualitas merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya yang
ada di sekolah. Modal sumber daya manusia yaitu guru dan tenaga kependidikan
sebagai salah satu modal yang berkorelasi langsung pada peningkatan
pembelajaran yang berkualitas. Sekolah dapat memotivasi guru untuk mengikuti
kegiatan pengembangan diri melalui bimtek, diklat, workshop dan kegiatan lain
yang mendukung kompetensi diri terutama yang kekinian.
Pengelolaan
modal lingkungan dipadu dengan modal fisik akan berkorelasi dan berkontribusi dengan
peningkatan pembelajaran. Lingkungan sekolah yang kondusif dari segi sosial
maupun politik akan menciptakan pembelajaran yang nyaman, menyenangkan dan
berpihak pada murid. Sumber daya ini sebagai aset sekolah dapat digunakan untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran.
Modal
sosial melalui kerjasama dengan MGMP sekolah maupun MGMP antar sekolah diperlukan
dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi guru. Kerjasama dengan Puskesmas
untuk meningkatkan derajat mutu kesehatan di sekolah.
Modal
fisik adalah bangunan dan sarana prasarana yang dapat dimanfaatkkan sesuai
dengan bentuk dan pemanfaatanya, misalnya gedung utama, sarana prasarana
pendukung di sekolah. Modal lingkungan alam yang ada disekitar sekolah adalah
sumber daya mendukung pembelajaran yang menyenangkan, seperti memanfaatkan
lingkungan menjadi area apotik hidup, green house dan tempa sumber belajar
tentang obat dan pemanfaatannya.
Modal
finansial dengan membuat rencana kerja anggaran sekolah (RKAS) sesuai prioritas
dan kebutuhan sekolah sehingga mendukung untuk keberlangsungan proses
pembelajaran manjadi lebih berkulitas. Modal politik berupa kerjasama atau
kemitraan dengan instansi/dinas terkait yang di pemerintah daerah untuk
mendukung program-program sekolah.
Modal
agama dan budaya untuk didayagunakan untuk membantu pembelajaran menjadi lebih
berkualitas yakni melestarikan budaya kearifan lokal misal belajar tari
tradisional dan kegiatan religi berupa pondok religi, memperingati hari besar
nasional keagamaan melibatkan tokoh agama disekitarnya, dll.
Pemimpin
Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya
Di
dalam ekosistem sekolah terdapat interaksi antara faktor biotik dan abiotik.
Faktor biotik terdiri atas murid, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan,
pengawas sekolah, orang tua murid dan masyarakat sekitar sekolah. Sedangkan
faktor abiotik terdiri atas keuangan serta sarana dan prasarana. Kedua faktor
ini saling berinteraksi satu sama lain, di mana satu faktor akan mempengaruhi
faktor lainnya, faktor-faktor biotik akan saling membutuhkan satu sama lainnya,
sedangkan faktor-faktor abiotik akan berperan mempengaruhi tingkat keberhasilan
proses pembelajaran.
Seorang
pemimpin diharapkan membangun ekosistem yang dapat merangsang kreativitas untuk
menunjang keberhasilan tujuan pendidikan. Keberhasilan sebuah proses
pembelajaran sangat tergantung pada cara pandang dalam melihat ekosistemnya:
apakah sebagai kekuatan atau sebagai kekurangan. Pemimpin yang memandang semua
yang dimiliki adalah suatu kekuatan, tidak akan berfokus pada kekurangan tapi
berupaya pada pemanfaatan aset atau sumber daya yang dimiliki. Dengan kata
lain, pemimpin harus bisa memberdayakan sumber daya yang ada di sekolahnya
untuk mengembangkan dan memajukan sekolah sehingga dapat mencapai visi dan misi
sekolahnya.
Berikan
beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan/keterkaitan dengan modul
lainnya/sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.
Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara
Ki
Hadjar Dewantara melalui filosiofinya bahwa pendidikan “kegiatan menuntun
segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota
masyarakat.” Pemanfaatan asset kekuatan guru dan murid sehingga guru sebagai
pemimpin pembelajaran harus dapat melakukan proses pembelajaran yang menyenangkan,
dan berpihak pada murid, karena murid bukanlah kertas kosong, namun setiap
murid memiliki potensi yang berbeda-beda, dan tugas kita sebagai guru hanya
menuntun dan menebalkan potensi yang sudah mereka miliki.
Nilai dan Peran Guru Penggerak
Guru
sebagai pendidik merupakan salah satu dari tujuh modal utama, yaitu modal
manusia. Guru sebagai pemimpin pembelajaran nilai dan peran yang sangat penting
dalam pembelajarn di kelas sehingga nilai-nilai mandiri, kolaboratif,
reflektif, inovatif dan berpihak pada murid harus dijadikan landasan dalam
terciptanya pebelajar yang sesuai dengan profil pelajar pancasila. Guru juga
dapat berperan dalam membangun sinergi di lingkungan sekolah sebagai pemimpin
pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain,
mendorong kolaborasi antar guru, serta mewujudkan kepemimpinan murid, dengan
nilai dan peran guru secara aktif, maka akan menciptakan generasi unggu dengan
memanfaatan modal utama untuk menggali potensi murid-muridnya.
Visi Guru Penggerak
Guru
sebagai pemimpin pembelajaran harus memiliki visi guru penggerak yang berbasis
IA (Inkuiri Apresiatif) melalui alur BAGJA. Pada konsep terebut dapat juga
digunakan sebagai pengelolaan sumber daya yang ada disekolah. Inkuiri
Apresiatif adalah suatu filosofi, landasan berpikir, yang berfokus pada upaya
kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia
sekitarnya, baik dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan.
Budaya Positif
Salah
satu aset/kekuatan berupa modal agama dan budaya. Budaya positif di lingkungan
sekolah merupakan budaya yang mendukung segala bentuk perkembangan murid dengan
tujuan memanusikan manusia dengan menerapkan disiplin positif, motivasi
perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan
sekolah/kelas, sehingga akan menghasilkan produk murid yang memiliki karakter
kuat di masa depan. Misalnya dengan melakukan langkah-langkah resitusi dalam
menyelesaikan masalah pada murid sehingga menciptakan murid yang memiliki
karakter positif di masa depannya.
Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Murid (Berdiferensiasi)
Pembelajaran
berdiferensiasi adalah sebuah cara dalam pembelajaran yang sangat berpihak
kepada murid berupa pemetaan murid berupa kesiapan belajar, minat dan profil
belajar murid yang berbeda sesuai dengan keunikannya. Sebelum melaksanakan
pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru harus sudah melaksakanan pemetaan
terhadap minat belajar siswa. Dalam proses pembelajaran berdiferensiasi akan
terwujud, jika pemanfaatan sumber daya yang ada disekolah seperti guru dan
murid, seta modal lingkungan, modal fisik dan yang lainnya dapat dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya.
Pembelajaran Sosial dan Emosional
Pembelajaran
Sosial Emosional (PSE) merupakan strategi seorang pemimpin pembelajaran dalam
melakukan kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah, yang menekankan pada
keterampilan dan pengelolaan mengenai aspek-aspek sosial emosional. Teknik
kesadaran diri (mindfulness) juga dapat dijadikan strategi bagaimana cara
mengelola sumber daya manusia, yaitu murid melalui tahapan tersebut maka
potensi kecerdasan sosial emosional anak bisa berkembang secara optimal.
Coaching untuk Supervisi Akademik
Coaching
merupakan sebuah strategi seorang pemimpin pembelajaran untuk melakukan
pengembangan kekuatan diri pada diri anak dengan menuntun, mendampingi anak,
untuk menggali potensi anak dan memaksimalkannya. Pada proses Coachee
memberikan kesempatan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir pada
diri anak, yang didalamnya terdapat Caach sebagai pengembangan kekuatan dan
potensi pada coachee sebagai lawan bicara.
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-nilai Kebajikan Seorang
Pemimpin
Sebagai
pemimpin pembelajaran dalam prosesnya akan selalu berhadapan dengan dua situasi
yakni, dilema etika dan bujukan moral yang dituntut pada pengembilan keptusan.
Sebagai pemimpin pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang baik,
diharapkan pada pengambilan keputusan tersebut dengan mengedepankan
keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi seluruh elemen yang terlibat di dalamnya,yaitu
dengan langkah-langkah pengambilan keputusan berdasarakn 4 paradigma, 3 prinsip
dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Prinsip tersebut sanat
penting karena hal ini sangat terkait dengan pengelolaan sumber daya yang ada
disekolah.
Ceritakan pula bagaimana hubungan antara
sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah
berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul
ini.
Sebelum
mempelajari dan memahami modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya bahwa
pengelolaan sumber daya menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Ia dapat
menentukan hitam putihnya asset karena memiliki kekuasaan yang besar dan dapat
pula mengabaikan masukan dari guru.
Dalam
langkah-langkah pengelolaan kelas atau pengambilan keputusan lebih banyak
berpikir pada kekurangan masalah, hal ini menyebabkan perasaan yang kurang
optimis, keraguan, negatif sehingga berakhir dengan kurang optimal.
Dengan
mempelajari modul 3.2 ini, wawasan dan pola pikir mengenai pemimpin
pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya ini menjadi berubah. Ternyata
seorang pemimpin harusnya selalu mengedepankan pola pikir berbasis
kekuatan/aset yang dimiliki sehingga hal ini membuat kita akan berpikir positif
dan optimis dengan memanfaatkan dan memberdayakan sumber daya atau aset yang
ada di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Pemimpin pembelajaran juga seharusnya
menggunakan asset sekolah untuk kebermanfaatan bersama sebuah ekosistem
sekolah, bukan malahan mengambil potensi itu untuk memperkaya diri maupun bukan
untuk sewenang wenang dalam pengadaan aset. Pada intinya pengelolaan aset harus
berpihak pada sekolah dengan memperhatikan regulasi yang berlaku, tata kelola
yang demokratis, dan pandangan asset untuk semua.
Demikian
kesimpulan koneksi antarmateri Modul 3.2 dengan modul sebelumnya dalam program
pendidikan guru penggerak ini penulis susun, semoga dapat menjadi sebuah nilai
kebermanfaatan bagi pembaca semua. Terima kasih dan Salam Guru Penggerak.
Program yang Berdampak Positif pada Murid
Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid merupakan salah satu bahasan modul penghujung dari serangkaian modul pada diklat Calon Guru Penggerak Angkatan 8. Dengan mempelajari modul 3.3 ini telah memberikan kesan mendalam bagi diri saya, karena materi yang diberikan merupakan pengalaman baru bagi saya tentang bagaimana membuat program yang dapat mendorong suara, pilihan, dan kepemimpinan yang berdampak positif bagi murid.
Selain itu dapat
membentuk karakter murid yang berkesesuaian dengan profil pelajar Pancasila.
Hal itu memberikan pemahaman tentang pentingnya keterlibatan murid secara aktif
dalam menyusun program sekolah misalnya tata tertib sekolah, visi dan misi
sekolah, dsb. Dengan adanya keterlibatan murid bisa menjadikan kekuatan yang
mengubah sesuatu menjadi lebih baik dan dapat menumbuhkembangkan jiwa
kepemimpinan murid melalui OSIS dan kegiatan ekstrakurikuler.
Apa intisari yang Anda dapatkan dari modul ini?
Dasar filosofi dari
Ki Hajar Dewantara, bahwa pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk
perikehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan
(rakyat), yang mampu bergotong royong.
Berlatih kepemimpinan
di kalangan pemuda memerlukan keterlibatan murid untuk berinteraksi dengan
orang lain, bekerjasama dan berkontribusi dalam masyarakat dan lingkungan yang lebih
luas. Dengan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan mendorong murid
mengembangkan berbagai sikap positif termasuk cinta kebersihan lingkungan,
toleransi, tertib hukum yang merupakan pengejawantahan dari iman, ketaqwaan,
dan akhlak mulia dan mandiri.
Menumbuhkembangkan
kepemimpinan murid dapat mengambil kontrol dan bertanggung jawab pada proses
pembelajaran mereka sendiri secara
mandiri. Intinya, kepemimpinan merupakan kemampuan murid dalam mengungkapkan
gagasan-gagasan atau ide-ide yang mengarah pada proses pembelajarannya sendiri,
mengkomunikasikan gagasan dan membuat pilihan-pilihan dalam proses
pembelajaran.
Pada saat murid menjadi
pemimpin atau student agent, maka sebenarnya
mereka memiliki suara (voice), pilihan (choice) dan kepemilikan (ownership) dalam
proses pembelajarannya sendiri. Kepemimpinan murid dapat tercapai jika pendidik
dapat mendorong munculnya tiga aspek tersebut. Oleh karena itu ini menjadi
tantangan guru bagaimana menggali potensi dan mengembangkan bakat siswa dengan
serangkaian kegiatan pembelajaran yang berpusat pada murid.
Pendidik berperan
menfasilitasi dengan menciptakan lingkungan yang dapat menumbuhkan kepemimpinan
murid. Dengan tumbuhnya kepemimpinan murid maka tujuan menciptakan profil
pelajar Pancasila pada diri murid pun akan tercapai. Meskipun demikian tentu
akan dijumpai hambatan dan tantangan. Mendidik generasi murid sekarang tidak
bisa dilakukan dengan cara-cara terdahulu. Jaman telah berubah dan banyak ilmu
pendidikan yang dapat kita pelajari untuk mewujudkannya.
Untuk mewujudkan hal
tersebut perlu adanya dukungan lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan
murid dan peran keterlibatan komunitas dalam menumbuhkembangkannya, serta
lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif,
arif, dan bijaksana. Lingkungan yang baik dengan budaya-budaya positif harus
dibentuk, dibiasakan dan diaktualisasikan setahap demi setahap.
Apa keterkaitan yang dapat Anda lihat antara Modul ini dengan modul-modul
sebelumnya?
Keterkaitan Modul 3.3
ini dengan modul-modul sebelumnya yaitu kita diajak kembali untuk menghubungkan
materi yang sudah dipelajari sebelumnya untuk membantu dalam pembuatan program.
Setiap modul saling terkait dan saling dibutuhkan supaya menjadi lengkap dalam
mempeajarinya.
Mendesaian
perencanaan dan pengelolaan program sekolah secara cermat dan tepat menjadikan
pengelolaan program sekolah menjadi jelas dan berdampak pada murid. Keterlibatan
murid menjadi penting agar kita dapat mendengar suara mereka dan pilihannya.
Resiko tidak dapat
dihindari, tetapi dapat dikelola dan dikendalikan karena apabila resiko tidak
dikelola dengan baik, maka akan mengakibatkan hambatan dan kerugian. Untuk itu,
sekolah bisa meminimalisasi sehingga program sekolah yang telah direncanakan
berjalan dengan baik.
Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 1.1
Filosofi Ki Hajar
Dewantara, bahwa guru mempunyai peran strategis untuk menuntun segala kodrat
yang ada pada anak-anak sehingga mereka dapat bahagia dan selamat sebagai
individu masyarakat. Dalam modul ini juga dibahas bahwa murid adalah pribadi
yang unik dan utuh, sehingga guru sebaiknya dapat menuntun murid sesuai dengan
kodratnya. Berkembangnya kodrat murid tentu sekolah atau guru harus memiliki
program untuk itu.
Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 1.2
mengenai nilai dan peran guru penggerak.
Nilai-nilai dari
seorang guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan
berpihak pada murid. Nilai dan peran dari guru penggerak tersebut tidak
terlepas dari cita-cita mulia untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila dan
merdeka belajar. Dalam menjalankan perannya, seorang guru tidak hanya cukup
sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, namun juga memiliki tanggung jawab
sebagai pemimpin dalam pengelolaan program sekolah yang berpihak pada murid.
Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 1.3
Dalam merencanakan
dan mengelola program yang berdampak pada murid dapat dilakukan dengan
menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA. Perencanan program
sebaiknya memenuhi tahapan 5D / BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran,
Gali mimpi, Jabarkan rencana dan Atur eksekusi) sehingga program yang
terwujud akan lebih tearah dan tertata. Konsep BAGJA hadir
sebagai model manajemen perubahan yang membantu mewujudkan murid merdeka
belajar di sekolah. Konsep ini juga dikenal dengan
strategi 5D yaitu Define, Discovery, Dream, Design and Destiny.
Define berarti
pentingnya menentukan suatu arah dan tujuan dari program yang akan dilaksanakan.
Hal ini dapat dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan utama yang dibuat untuk
mengarahkan kepada penelusuran hal-hal yang akan dilakukan. Discovery sebagai cara untuk
menemukan potensi terbaik yang dimiliki atau dikenal dengan tahap pencarian
jati diri. Dapat dilakukan dengan mengambil pelajaran pada peristiwa yang
terjadi sebelumnya. Dream artinya
dengan harapan, mimpi dan segala hal yang mungkin menjadi cita-cita bersama
melalui program yang direncanakan. Tentunya mimpi ini dapat dicapai jika ada kolaborasi
dan dukungan dari seluruh warga sekolah serta stakeholder yang ada.
Design merupakan
rancangan langkah strategi untuk melaksanakan program. Strategi yang efektif
diperlukan untuk mencapai visi misi. Hal ini dapat dikembangkan ke hal-hal
positif yang menjadikan murid merasa aman, nyaman dan bahagia. Sehingga,
diperlukan Destiny atau
cara membangun budaya melalui inovasi pembelajaran dan kreativitas yang tinggi
dalam model pembelajaran.
Dengan terlebih
dahulu memetakan aset atau sumber daya sekolah, dan mengembangkan aset atau
potensi yang bisa dikembangkan untuk merencanakan program sekolah yang
berdampak pada murid.
Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 1.4
Budaya positif,
berupa lingkungan yang mendukung perkembangan potensi, minat dan profil belajar
murid terutama kekuatan kodrat pada anak-anak. Guru seyogyanya dapat
mengoptimalkan sumber daya lingkungan yang positif dan mengembangkan budaya
positif agar anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman
dan mendukung program yang berdampak pada murid.
Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 2.1
Dengan pembelajaran
berdiferensiasi maka guru dapat memberikan pelayanan terbaik yang berpihak pada
murid, karena pembelajaran dapat melayani gaya belajar dan kebutuhan murid.
Pembelajaran berdiferensiasi ini merupakan solusi atas beragamnya karakteristik
dan kecerdasan murid. Sebelum merencanakan pembelajaran berdiferensiasi,
seorang guru hendaknya melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar, minat dan
profil belajar murid. Hal ini dilakukan untuk mengetahui aset atau kekuatan
yang dimiliki oleh murid.
Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 2.2
Guru dilatih untuk senantiasa
mampu mengembangkan kompetensi sosial murid. Tehnik mindfullness menjadi strategi pengembangan lima kompetensi sosial
emosional (KSE) yang didasarkan pada program yang berpihak pada murid dan
mewujudkan merdeka belajar dan budaya positif di sekolah.
Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 2.3
Coaching merupakan
langkah dalam menggali potensi/ide/gagasan murid. Hal ini
dikarenakan melalui coaching maka
dapat melejitkan kinerja murid untuk menemukan sendiri solusi atas permasalahan
yang dihadapi ketika melaksanakan program sekolah yang berdampak pada murid. Dengan coaching berperan bagi seorang pemimpin
pembelajaran untuk menuntun anak dan menggali potensi yang dimiliki oleh anak
dan memberikan keleluasaan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir.
Dalam pengelolaan
program yang berdampak pada murid, coaching
dapat digunakan sebagai strategi untuk mengembangkan sumber daya murid,
mengembangkan kepemimpinan murid, menggali potensi murid untuk mencapai tujuan
pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan anak.
Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 3.1
Guru sebagai seorang
pemimpin pembelajaran harus dapat mengambil keputusan secara bijak diantaranya
yaitu keputusan yang berpihak pada murid. Dasar, prinsip serta paradigma atau
nilai dalam pengambilan keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan
dilema etika atau bujukan moral. Disinilah guru harus berani dan berhati-hati
dalam menentukan pilihan.
Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 3.2
Seorang guru sebagai
pemimpin pembelajaran maupun pengelola program sekolah dituntut mampu memetakan
dan mengidentifikasi aset-aset yang ada di sekolah, baik aset fisik maupun
nonfisik. Itu digunakan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sekolah
sebagai komunitas pendidikan. Pendekatan berbasis masalah juga penting meskipun
ada beragam kekurangannya, penerapannya harus disesuaikan dengan situasi
kondisi atau konteks yang tepat. Dengan berfokus pada pengelolaan aset yang
dimiliki, pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat terencana dengan
baik.
Dalam Modul 3.3
tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid, ada tujuh aset atau
modal yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sekolah, antara lain: modal
manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial,
modal politik, modal agama dan budaya. Dengan mengetahui dan memahami modal
atau sumber daya yang ada di sekolah, maka sebagai pemimpin guru bisa memetakan
tujuh aset tersebut dan mengoptimalkan pengelolaannya untuk peningkatan
pembelajaran di sekolah.
Setelah melihat keterkaitan antara
modul ini dengan modul-modul lainnya, jelaskanlah perspektif Anda tentang
program yang berdampak positif pada murid. Bagaimana seharusnya program-program
atau kegiatan sekolah harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi agar
program-program tersebut dapat berdampak positif pada murid?
Dari pemaparan saya
di atas sudah terlihat keterkaitan antarmodul. Mempelajari modul – modul yang
ada memberikan arah terwujudnya visi Pendidikan Indonesia sesuai dengan yang
diamanatkan Ki Hajar Dewantara sebagaimana dalam filosofinya. Kita dapat
mengambil sebuah kesimpulan bahwa penyusunan program sekolah perlu
mempertimbangkannya secara matang agar dapat memberikan dampak yang positif
bagi murid.
Dari sini terlihat
peran guru sangat besar untuk mengembangkan diri untuk meningkatkan kualitas
murid melalui program tersebut. Pengalaman masa lalu membuat saya belum menjadi
sosok guru sepenuhnya, dan itu membuat saya terus belajar dan akan terus
belajar.
Dengan perannya sebagai
guru setelah belajar BAGJA, maka dalam menyusun program dengan mempertimbangkan
suara murid direncanakan melalui tahapan BAGJA, dilaksanakann dengan melibatkan
peserta didik secara langsung dan setelahnya dievaluasi melalui sembilan
langkah tahapan pengujian dan pengambilan keputusan.
Berdasarkan langkah
program yang direncanakan sekolah, maka saya akan berupaya memberikan dampak
yang positif pada peserta didik. Dari hal tersebut sebagai guru penggerak dapat
mengimplementasikan suara murid untuk menyusun suatu program yang nantinya diharapkan
memberikan dampak positif dan kontribusi bagi murid.
Program andalan tersebut
adalah Praktik-Praktik Budaya Toleransi yang
merupakan program untuk menjaga harmonisasi pergaulan sosial di lingkungan
kelas dan sekolah. Dengan program kegiatan tersebut, murid dapat terlibat
membuat kriteria penilaian yang akan dilakukan oleh murid secara bergantian sesuai
dengan jadwal.
Hasil yang dinilai
bersama disampaikan secara langsung kepada kelas yang diobservasi, dan
dilaporkan kepada Wakasek kesiswaan dan Kurikulum untuk selanjutnya dilaporkan
ke wali kelas. Program ini disusun dengan memperhatikan tahapan BAGJA dengan harapan
semua elemen tergerak dan bergerak baik dari murid maupun guru. Demikian
pemaparan koneksi antarmateri Modul 33 dengan modul-modul sebelumnya. Semoga
dapat bermanfaat bagi para pembaca semua, atas perhatiannya diucapkan terima
kasih.
Koneksi antarmateri Modul 3.3
Analisis Video Praktik Baik 3.2
Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.2
![]() |
| Visi Kelas Impian. (Gambar: canva.com) |
3. Apakah pertanyaan utama dari kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?
- a. Guru memberikan pertanyaan untuk menggali informasi dan menggali pengalaman belajar murid.
- b. Murid diajak untuk mengambil pelajaran dari kelas lain untuk menambah inspirasi kelas yang membuat semangat dengan mengadakan kunjungan ke kelas lain.
- c. Murid mengidentifikasi ruang kelas 2 dan 6 dan mencatat tentang apa yang mereka sukai di kelas tersebut yang dapat dijadikan penyemangat belajar.
- d. Murid juga dapat bertanya kepada siswa yang berada di kelas itu tentang apa yang mereka sukai di kelasnya. Pada kegiatan ini guru membagi siswa menjadi 4 kelompok.
- a. Guru meminta murid untuk mengambil alat dan bahan yang sudah disiapkan untuk setiap kelompok.
- b. Guru meminta murid untuk menutup mata mereka dan membayangkan kira-kira kelas seperti apa yang nyaman dan menyenangkan serta menjadi penyemangat dalam belajar.
- c. Guru meminta murid bekerja secara berkelompok untuk menggambarkan kelas yang nyaman sesuai dengan impian yang murid bayangkan.
- d. Guru meminta murid untuk menjelaskan di depan kelas terkait kelas impiannya.
- a. Guru mengajak murid untuk berkomitmen menentukan kebutuhan apa sajakah yang harus dipersiapkan untuk mewujudkan kelas impian mereka.
- b. Guru mengajak murid untuk membuat daftar rencana apa yang harus dilakukan untuk kelas impian mereka
- c. Guru bertanya kepada murid tentang bagaimana cara mewujudkan kelas impian.
- d. Guru menuliskan jawaban-jawaban harapan yang dimiliki murid di papan tulis seperti: lantai yang bersih, dinding yang penuh hiasan, kursi yang bisa diubah-ubah, adanya rak buku, dll.
- a. Guru memberi kesempatan murid untuk berpikir bagaimana menentukan pembagian tugas dalam kelompok.
- b. Guru menulis terkait tugas yang dimiliki oleh setiap kelompok di papan tulis diantaranya:
- c. Guru dan murid menyepakati waktu pelaksanaan atas pemenuhan tugas yang telah diberikan.
- d. Guru meminta murid menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
Education is the art of making man ethical. (Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis). ~ George Wilhelm Friedrich Hegel ~
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-Nilai Kebajikan
Sebuah demonstrasi kontekstual Modul 3.1
Bujukan Moral dan Dilema etika
Paradigma, Prinsip, dan Langkah Pengambilan Keputusan
- 1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
- 2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
- 3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
- 4. Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.
- 5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
- 6. Melakukan Prinsip Resolusi.
- 7. Investigasi Opsi Trilema.
- 8. Buat Keputusan.
- 9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.
















