Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Kemakmuran dan Kesejahteraan

Kemakmuran dan Kesejahteraan

Kita sering mendengar istilah masyarakat adil dan makmur, sejahtera lahir batin. Apakah sebenarnya arti dari makmur dan sejahtera itu? Sudahkah terwujud? Mari kita simak pembahasannya.

Gambar: Pajak untuk Kemakmuran. Dok: 
@DitjenPajakRI
.

Kemakmuran artinya suatu keadaan individu atau masyarakat yang serba kecukupan atau tidak kekurangan kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan hidup (ekonomi). Sedangkan kesejahteraan adalah keadaan aman sentosa dan makmur serta selamat karena terlepas dari segala macam gangguan. Dapat disimpulkan, kalau makmur belum tentu sejahtera namun sebaliknya. Apabila sejahtera maka kemakmuran tentunya telah tercapai.

Tingkatan kesejahteraan bersifat relatif karena terkait dengan kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan baik materiil (lahir) maupun non materi. Ada beberapa indikator peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat, antara lain (1) kenaikan penghasilan secara kuantitatif; (2) peningkatan taraf kesehatan secara kualitatif; dan (3) adanya tabungan atau investasi. Meskipun demikian, keadilan merupakan hal utama yang harus didahulukan tanpa menunggu datangnya kemakmuran.

Meskipun begitu, kiranya kita sepakat bahwa keadilan diutamakan terlebih dahulu daripada kemakmuran dan kesejahteraan karena menyangkut rasa dan martabat manusia. Demikian sedikit pembahasan mengenai kemakmuran dan keadilan, apabila kalian setuju atau tidak maka dapat menuliskannya pada kolom komentar di bawah artikel ini. Terima kasih atas atensinya.

Menyebarkan Virus Baik Toleransi dalam Keberagaman

Menyebarkan Virus Baik Toleransi dalam Keberagaman

Bangsa Indonesia terdiri atas keberagaman sehingga bersifat heterogen. Homogenitas absolut (persamaan mutlak) sulit bahkan tidak dapat ditemukan pada ruang-ruang publik. Heterogenitas atau kebinekaan sudah menjadi keniscayaan. Oleh karena itu, kita harus sadar dan terbuka untuk menerima perbedaan dengan mengembangkan sikap menghormati atau toleransi.

Keberagaman menjadi modal sosial apabila dikelola dengan baik dalam bingkai bhinneka tunggal ika. Oleh karena itu dibutuhkan komitmen dari setiap orang untuk saling terbuka, saling percaya, saling menghormati, dan memberikan kewenangan bagi seseorang yang dipilihnya untuk berperan sesuai dengan tanggung jawabnya. Dari hal tersebut akan meningkatkan rasa kebersamaan, kesetiakawanan, dan sekaligus tanggung jawab akan kemajuan bersama. Jadi Bhinneka Tunggal Ika menjadi perekat dan pemersatu bangsa Indonesia.

Nah, pada hari Rabu, 15 Mei 2024, penulis memenuhi undangan untuk berbagi kisah menyemaikan semangat toleransi di SMA Negeri 13 Semarang dalam ajang P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila edisi Bhinneka Tunggal Ika). Seru acaranya, berikut adalah beberapa foto dalam kegiatan tersebut.

 



Gambar: suasana edukasi toleransi. Dok. Penulis

Kegiatan dilakukan dengan seminar, ice breaking, penayangan film, interaktif game digital, unjuk performan peserta, tanya jawab, dan reward. Pembukaan acara dilakukan oleh Ibu Istiana selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan didampingi oleh guru-guru dari SMAGALAS. Adapun file presentasinya sebagai berikut.

 

Berikut ini merupakan video film yang saya ambil dari Alfi Rev untuk menyemarakkan bahasan mengenai bhinneka tunggal ika yang setelah selesai siswa mengerjakan kuiz interaktif.



Adapun kuiz interaktifnya sebagai berikut. Silahkan setelah kalian menyaksikan dua video tersebut dapat menjawab kuiznya berikut ini.


Nah selamat mengerjakan ya, semoga berkesan. Terima kasih atas perhatiannya.

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Kesimpulan dan koneksi antarmateri yang ada di dalam modul 3.2 dengan materi lainnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.

Koneksi Antar Materi Modul 3.2 membahas konsep Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya dengan menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang sebelumnya. Setelah itu membuat kesimpulan dan mengoneksikan materi yang ada di dalam modul ini dengan materi lainnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak hampi lima bulan ini.

Koneksi Antar Materi Modul 3.2 membahas konsep Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya dengan menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang sebelumnya. Setelah itu membuat kesimpulan dan mengoneksikan materi yang ada di dalam modul ini dengan materi lainnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak hampi lima bulan ini.

Ekosistem Sekolah sebagai Institusi Pendidikan

Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan bentuk hubungan yang selaras dan harmonis.

Sekolah sebagai Komunitas

Sekolah sebagai sebuah komunitas memiliki beberapa hak seperti hak mengatur, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pendidikan agar efisien dan efektif sehingga penyelenggaraan pendidikan dapat tercapai berdasarkan standar pengelolaan pendidikan. Untuk itu membutuhkan partisipasi seluruh warga sekolah melalui pendekatan komunitas berbasis aset.

Pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development)

Asset-Based Community Development (ABCD) atau Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) adalah suatu pendekatan menekankan pada nilai, prinsip, cara berpikir mengenai lingkungan, memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Disini menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna.

Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.

Dalam pengelolaan sumber daya oleh pemimpin pembelajaran dalam pemanfaatan pada aset-aset sekolah yang dimiliki harus dikelola dengan baik oleh seorang pemimpin pembelajaran. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya yang ada di sekolah menjadi modal utama dalam membangun kekuatan atau potensi dalam ruang lingkup warga sekolah, lingkungan dan masyarakat, yang bermuara pada kebermanfaatan bagi peserta didik.

Sumber daya yang ada di sekolah saling berhubungan atau berinteraksi secara timbal balik dan saling ketergantungan antara komponen dalam ekosistem. Dalam hal ini adalah komponen biotik yaitu unsur yang hidup dan komponen abiotik, yaitu unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup) ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis.

Faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya, seperti hubungan antara murid, kepala sekolah, guru, staf atau tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua dan masyarakat sekitar sekolah. Sedangkan faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah: keuangan dan sarana dan prasarana termasuk media pembelajaran dan teknologi informasi komunikasi.

Kekuatan atau potensi sumber daya yang ada di sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus dapat mengimpelementasikan kekuatan tersebut melalui konsep 7 modal utama yang terdapat di sekolah, yakni 1) modal manusia, 2) modal fisik, 3) modal sosial, 4) modal finansial, 5) modal politik, 6) modal lingkungan/alam, 7) modal agama dan budaya.

Pengelolaan tujuh modal utama oleh pemimpin pembelajaran sebagai aset/kekuatan sekolah. Pemimpin pembelajaran juga harus dapat memanfaatkan pendekatan berfikir dalam pengelolaan asset, diantaranya Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking) akan melihat dengan cara pandang negatif. memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja, dan Pendekatan Berbasis Aset (Asset-Based Thinking) adalah memusatkan pikiran pada kekuatan positif, pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.

Pengelolaan sumber daya yang tepat dan dapat mendorong pada proses pembelajaran di kelas menjadi lebih berkualitas merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya yang ada di sekolah. Modal sumber daya manusia yaitu guru dan tenaga kependidikan sebagai salah satu modal yang berkorelasi langsung pada peningkatan pembelajaran yang berkualitas. Sekolah dapat memotivasi guru untuk mengikuti kegiatan pengembangan diri melalui bimtek, diklat, workshop dan kegiatan lain yang mendukung kompetensi diri terutama yang kekinian.

Pengelolaan modal lingkungan dipadu dengan modal fisik akan berkorelasi dan berkontribusi dengan peningkatan pembelajaran. Lingkungan sekolah yang kondusif dari segi sosial maupun politik akan menciptakan pembelajaran yang nyaman, menyenangkan dan berpihak pada murid. Sumber daya ini sebagai aset sekolah dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Modal sosial melalui kerjasama dengan MGMP sekolah maupun MGMP antar sekolah diperlukan dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi guru. Kerjasama dengan Puskesmas untuk meningkatkan derajat mutu kesehatan di sekolah.

Modal fisik adalah bangunan dan sarana prasarana yang dapat dimanfaatkkan sesuai dengan bentuk dan pemanfaatanya, misalnya gedung utama, sarana prasarana pendukung di sekolah. Modal lingkungan alam yang ada disekitar sekolah adalah sumber daya mendukung pembelajaran yang menyenangkan, seperti memanfaatkan lingkungan menjadi area apotik hidup, green house dan tempa sumber belajar tentang obat dan pemanfaatannya.

Modal finansial dengan membuat rencana kerja anggaran sekolah (RKAS) sesuai prioritas dan kebutuhan sekolah sehingga mendukung untuk keberlangsungan proses pembelajaran manjadi lebih berkulitas. Modal politik berupa kerjasama atau kemitraan dengan instansi/dinas terkait yang di pemerintah daerah untuk mendukung program-program sekolah.  

Modal agama dan budaya untuk didayagunakan untuk membantu pembelajaran menjadi lebih berkualitas yakni melestarikan budaya kearifan lokal misal belajar tari tradisional dan kegiatan religi berupa pondok religi, memperingati hari besar nasional keagamaan melibatkan tokoh agama disekitarnya, dll.

Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya

Di dalam ekosistem sekolah terdapat interaksi antara faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik terdiri atas murid, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, orang tua murid dan masyarakat sekitar sekolah. Sedangkan faktor abiotik terdiri atas keuangan serta sarana dan prasarana. Kedua faktor ini saling berinteraksi satu sama lain, di mana satu faktor akan mempengaruhi faktor lainnya, faktor-faktor biotik akan saling membutuhkan satu sama lainnya, sedangkan faktor-faktor abiotik akan berperan mempengaruhi tingkat keberhasilan proses pembelajaran.

Seorang pemimpin diharapkan membangun ekosistem yang dapat merangsang kreativitas untuk menunjang keberhasilan tujuan pendidikan. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran sangat tergantung pada cara pandang dalam melihat ekosistemnya: apakah sebagai kekuatan atau sebagai kekurangan. Pemimpin yang memandang semua yang dimiliki adalah suatu kekuatan, tidak akan berfokus pada kekurangan tapi berupaya pada pemanfaatan aset atau sumber daya yang dimiliki. Dengan kata lain, pemimpin harus bisa memberdayakan sumber daya yang ada di sekolahnya untuk mengembangkan dan memajukan sekolah sehingga dapat mencapai visi dan misi sekolahnya.

Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan/keterkaitan dengan modul lainnya/sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.

Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara melalui filosiofinya bahwa pendidikan “kegiatan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.” Pemanfaatan asset kekuatan guru dan murid sehingga guru sebagai pemimpin pembelajaran harus dapat melakukan proses pembelajaran yang menyenangkan, dan berpihak pada murid, karena murid bukanlah kertas kosong, namun setiap murid memiliki potensi yang berbeda-beda, dan tugas kita sebagai guru hanya menuntun dan menebalkan potensi yang sudah mereka miliki.

Nilai dan Peran Guru Penggerak

Guru sebagai pendidik merupakan salah satu dari tujuh modal utama, yaitu modal manusia. Guru sebagai pemimpin pembelajaran nilai dan peran yang sangat penting dalam pembelajarn di kelas sehingga nilai-nilai mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan berpihak pada murid harus dijadikan landasan dalam terciptanya pebelajar yang sesuai dengan profil pelajar pancasila. Guru juga dapat berperan dalam membangun sinergi di lingkungan sekolah sebagai pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, serta mewujudkan kepemimpinan murid, dengan nilai dan peran guru secara aktif, maka akan menciptakan generasi unggu dengan memanfaatan modal utama untuk menggali potensi murid-muridnya.

Visi Guru Penggerak

Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus memiliki visi guru penggerak yang berbasis IA (Inkuiri Apresiatif) melalui alur BAGJA. Pada konsep terebut dapat juga digunakan sebagai pengelolaan sumber daya yang ada disekolah. Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi, landasan berpikir, yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya, baik dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan.

Budaya Positif

Salah satu aset/kekuatan berupa modal agama dan budaya. Budaya positif di lingkungan sekolah merupakan budaya yang mendukung segala bentuk perkembangan murid dengan tujuan memanusikan manusia dengan menerapkan disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, sehingga akan menghasilkan produk murid yang memiliki karakter kuat di masa depan. Misalnya dengan melakukan langkah-langkah resitusi dalam menyelesaikan masalah pada murid sehingga menciptakan murid yang memiliki karakter positif di masa depannya.

Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Murid (Berdiferensiasi)

Pembelajaran berdiferensiasi adalah sebuah cara dalam pembelajaran yang sangat berpihak kepada murid berupa pemetaan murid berupa kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid yang berbeda sesuai dengan keunikannya. Sebelum melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru harus sudah melaksakanan pemetaan terhadap minat belajar siswa. Dalam proses pembelajaran berdiferensiasi akan terwujud, jika pemanfaatan sumber daya yang ada disekolah seperti guru dan murid, seta modal lingkungan, modal fisik dan yang lainnya dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Pembelajaran Sosial dan Emosional

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan strategi seorang pemimpin pembelajaran dalam melakukan kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah, yang menekankan pada keterampilan dan pengelolaan mengenai aspek-aspek sosial emosional. Teknik kesadaran diri (mindfulness) juga dapat dijadikan strategi bagaimana cara mengelola sumber daya manusia, yaitu murid melalui tahapan tersebut maka potensi kecerdasan sosial emosional anak bisa berkembang secara optimal.

Coaching untuk Supervisi Akademik

Coaching merupakan sebuah strategi seorang pemimpin pembelajaran untuk melakukan pengembangan kekuatan diri pada diri anak dengan menuntun, mendampingi anak, untuk menggali potensi anak dan memaksimalkannya. Pada proses Coachee memberikan kesempatan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir pada diri anak, yang didalamnya terdapat Caach sebagai pengembangan kekuatan dan potensi pada coachee sebagai lawan bicara.

Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-nilai Kebajikan Seorang Pemimpin

Sebagai pemimpin pembelajaran dalam prosesnya akan selalu berhadapan dengan dua situasi yakni, dilema etika dan bujukan moral yang dituntut pada pengembilan keptusan. Sebagai pemimpin pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang baik, diharapkan pada pengambilan keputusan tersebut dengan mengedepankan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi seluruh elemen yang terlibat di dalamnya,yaitu dengan langkah-langkah pengambilan keputusan berdasarakn 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Prinsip tersebut sanat penting karena hal ini sangat terkait dengan pengelolaan sumber daya yang ada disekolah.

Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

Sebelum mempelajari dan memahami modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya bahwa pengelolaan sumber daya menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Ia dapat menentukan hitam putihnya asset karena memiliki kekuasaan yang besar dan dapat pula mengabaikan masukan dari guru.

Dalam langkah-langkah pengelolaan kelas atau pengambilan keputusan lebih banyak berpikir pada kekurangan masalah, hal ini menyebabkan perasaan yang kurang optimis, keraguan, negatif sehingga berakhir dengan kurang optimal.

Dengan mempelajari modul 3.2 ini, wawasan dan pola pikir mengenai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya ini menjadi berubah. Ternyata seorang pemimpin harusnya selalu mengedepankan pola pikir berbasis kekuatan/aset yang dimiliki sehingga hal ini membuat kita akan berpikir positif dan optimis dengan memanfaatkan dan memberdayakan sumber daya atau aset yang ada di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Pemimpin pembelajaran juga seharusnya menggunakan asset sekolah untuk kebermanfaatan bersama sebuah ekosistem sekolah, bukan malahan mengambil potensi itu untuk memperkaya diri maupun bukan untuk sewenang wenang dalam pengadaan aset. Pada intinya pengelolaan aset harus berpihak pada sekolah dengan memperhatikan regulasi yang berlaku, tata kelola yang demokratis, dan pandangan asset untuk semua.

Demikian kesimpulan koneksi antarmateri Modul 3.2 dengan modul sebelumnya dalam program pendidikan guru penggerak ini penulis susun, semoga dapat menjadi sebuah nilai kebermanfaatan bagi pembaca semua. Terima kasih dan Salam Guru Penggerak.


Program yang Berdampak Positif pada Murid

Program yang Berdampak Positif pada Murid

Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid merupakan salah satu bahasan modul penghujung dari serangkaian modul pada diklat Calon Guru Penggerak Angkatan 8. Dengan mempelajari modul 3.3 ini telah memberikan kesan mendalam bagi diri saya, karena materi yang diberikan merupakan pengalaman baru bagi saya tentang bagaimana membuat program yang dapat mendorong suara, pilihan, dan kepemimpinan yang berdampak positif bagi murid.

Selain itu dapat membentuk karakter murid yang berkesesuaian dengan profil pelajar Pancasila. Hal itu memberikan pemahaman tentang pentingnya keterlibatan murid secara aktif dalam menyusun program sekolah misalnya tata tertib sekolah, visi dan misi sekolah, dsb. Dengan adanya keterlibatan murid bisa menjadikan kekuatan yang mengubah sesuatu menjadi lebih baik dan dapat menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan murid melalui OSIS dan kegiatan ekstrakurikuler.

Apa intisari yang Anda dapatkan dari modul ini?

Dasar filosofi dari Ki Hajar Dewantara, bahwa pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat), yang mampu bergotong royong.

Berlatih kepemimpinan di kalangan pemuda memerlukan keterlibatan murid untuk berinteraksi dengan orang lain, bekerjasama dan berkontribusi dalam masyarakat dan lingkungan yang lebih luas. Dengan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan mendorong murid mengembangkan berbagai sikap positif termasuk cinta kebersihan lingkungan, toleransi, tertib hukum yang merupakan pengejawantahan dari iman, ketaqwaan, dan akhlak mulia dan mandiri.

Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid dapat mengambil kontrol dan bertanggung jawab pada proses pembelajaran mereka sendiri  secara mandiri. Intinya, kepemimpinan merupakan kemampuan murid dalam mengungkapkan gagasan-gagasan atau ide-ide yang mengarah pada proses pembelajarannya sendiri, mengkomunikasikan gagasan dan membuat pilihan-pilihan dalam proses pembelajaran.

Pada saat murid menjadi pemimpin atau student agent, maka sebenarnya mereka memiliki suara (voice), pilihan (choice) dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajarannya sendiri. Kepemimpinan murid dapat tercapai jika pendidik dapat mendorong munculnya tiga aspek tersebut. Oleh karena itu ini menjadi tantangan guru bagaimana menggali potensi dan mengembangkan bakat siswa dengan serangkaian kegiatan pembelajaran yang berpusat pada murid.

Pendidik berperan menfasilitasi dengan menciptakan lingkungan yang dapat menumbuhkan kepemimpinan murid. Dengan tumbuhnya kepemimpinan murid maka tujuan menciptakan profil pelajar Pancasila pada diri murid pun akan tercapai. Meskipun demikian tentu akan dijumpai hambatan dan tantangan. Mendidik generasi murid sekarang tidak bisa dilakukan dengan cara-cara terdahulu. Jaman telah berubah dan banyak ilmu pendidikan yang dapat kita pelajari untuk mewujudkannya.

Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya dukungan lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid dan peran keterlibatan komunitas dalam menumbuhkembangkannya, serta lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif, dan bijaksana. Lingkungan yang baik dengan budaya-budaya positif harus dibentuk, dibiasakan dan diaktualisasikan setahap demi setahap.

Apa keterkaitan yang dapat Anda lihat antara Modul ini dengan modul-modul sebelumnya?

Keterkaitan Modul 3.3 ini dengan modul-modul sebelumnya yaitu kita diajak kembali untuk menghubungkan materi yang sudah dipelajari sebelumnya untuk membantu dalam pembuatan program. Setiap modul saling terkait dan saling dibutuhkan supaya menjadi lengkap dalam mempeajarinya.

Mendesaian perencanaan dan pengelolaan program sekolah secara cermat dan tepat menjadikan pengelolaan program sekolah menjadi jelas dan berdampak pada murid. Keterlibatan murid menjadi penting agar kita dapat mendengar suara mereka dan pilihannya.

Resiko tidak dapat dihindari, tetapi dapat dikelola dan dikendalikan karena apabila resiko tidak dikelola dengan baik, maka akan mengakibatkan hambatan dan kerugian. Untuk itu, sekolah bisa meminimalisasi sehingga program sekolah yang telah direncanakan berjalan dengan baik.

Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 1.1

Filosofi Ki Hajar Dewantara, bahwa guru mempunyai peran strategis untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak sehingga mereka dapat bahagia dan selamat sebagai individu masyarakat. Dalam modul ini juga dibahas bahwa murid adalah pribadi yang unik dan utuh, sehingga guru sebaiknya dapat menuntun murid sesuai dengan kodratnya. Berkembangnya kodrat murid tentu sekolah atau guru harus memiliki program untuk itu.

Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 1.2 mengenai nilai dan peran guru penggerak.

Nilai-nilai dari seorang guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Nilai dan peran dari guru penggerak tersebut tidak terlepas dari cita-cita mulia untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila dan merdeka belajar. Dalam menjalankan perannya, seorang guru tidak hanya cukup sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, namun juga memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam pengelolaan program sekolah yang berpihak pada murid.

Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 1.3

Dalam merencanakan dan mengelola program yang berdampak pada murid dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA. Perencanan program sebaiknya memenuhi tahapan 5D / BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana dan Atur eksekusi) sehingga program yang terwujud akan lebih tearah dan tertata. Konsep BAGJA hadir sebagai model manajemen perubahan yang membantu mewujudkan murid merdeka belajar di sekolah. Konsep ini juga dikenal dengan strategi 5D yaitu Define, Discovery, Dream, Design and Destiny.

Define berarti pentingnya menentukan suatu arah dan tujuan dari program yang akan dilaksanakan. Hal ini dapat dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan utama yang dibuat untuk mengarahkan kepada penelusuran hal-hal yang akan dilakukan. Discovery sebagai cara untuk menemukan potensi terbaik yang dimiliki atau dikenal dengan tahap pencarian jati diri. Dapat dilakukan dengan mengambil pelajaran pada peristiwa yang terjadi sebelumnya. Dream artinya dengan harapan, mimpi dan segala hal yang mungkin menjadi cita-cita bersama melalui program yang direncanakan. Tentunya mimpi ini dapat dicapai jika ada kolaborasi dan dukungan dari seluruh warga sekolah serta stakeholder yang ada. 

Design merupakan rancangan langkah strategi untuk melaksanakan program. Strategi yang efektif diperlukan untuk mencapai visi misi. Hal ini dapat dikembangkan ke hal-hal positif yang menjadikan murid merasa aman, nyaman dan bahagia. Sehingga, diperlukan Destiny atau cara membangun budaya melalui inovasi pembelajaran dan kreativitas yang tinggi dalam model pembelajaran.

Dengan terlebih dahulu memetakan aset atau sumber daya sekolah, dan mengembangkan aset atau potensi yang bisa dikembangkan untuk merencanakan program sekolah yang berdampak pada murid.

Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 1.4

Budaya positif, berupa lingkungan yang mendukung perkembangan potensi, minat dan profil belajar murid terutama kekuatan kodrat pada anak-anak. Guru seyogyanya dapat mengoptimalkan sumber daya lingkungan yang positif dan mengembangkan budaya positif agar anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman dan mendukung program yang berdampak pada murid.

Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 2.1

Dengan pembelajaran berdiferensiasi maka guru dapat memberikan pelayanan terbaik yang berpihak pada murid, karena pembelajaran dapat melayani gaya belajar dan kebutuhan murid. Pembelajaran berdiferensiasi ini merupakan solusi atas beragamnya karakteristik dan kecerdasan murid. Sebelum merencanakan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru hendaknya melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar, minat dan profil belajar murid. Hal ini dilakukan untuk mengetahui aset atau kekuatan yang dimiliki oleh murid.

Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 2.2

Guru dilatih untuk senantiasa mampu mengembangkan kompetensi sosial murid. Tehnik mindfullness menjadi strategi pengembangan lima kompetensi sosial emosional (KSE) yang didasarkan pada program yang berpihak pada murid dan mewujudkan merdeka belajar dan budaya positif di sekolah.

Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 2.3

Coaching merupakan langkah dalam menggali potensi/ide/gagasan murid. Hal ini dikarenakan melalui coaching maka dapat melejitkan kinerja murid untuk menemukan sendiri solusi atas permasalahan yang dihadapi ketika melaksanakan program sekolah yang berdampak pada murid. Dengan coaching berperan bagi seorang pemimpin pembelajaran untuk menuntun anak dan menggali potensi yang dimiliki oleh anak dan memberikan keleluasaan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir.

Dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid, coaching dapat digunakan sebagai strategi untuk mengembangkan sumber daya murid, mengembangkan kepemimpinan murid, menggali potensi murid untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan anak.

Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 3.1

Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran harus dapat mengambil keputusan secara bijak diantaranya yaitu keputusan yang berpihak pada murid. Dasar, prinsip serta paradigma atau nilai dalam pengambilan keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan dilema etika atau bujukan moral. Disinilah guru harus berani dan berhati-hati dalam menentukan pilihan.

Hubungan Modul 3.3 dengan Modul 3.2

Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran maupun pengelola program sekolah dituntut mampu memetakan dan mengidentifikasi aset-aset yang ada di sekolah, baik aset fisik maupun nonfisik. Itu digunakan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sekolah sebagai komunitas pendidikan. Pendekatan berbasis masalah juga penting meskipun ada beragam kekurangannya, penerapannya harus disesuaikan dengan situasi kondisi atau konteks yang tepat. Dengan berfokus pada pengelolaan aset yang dimiliki, pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat terencana dengan baik.

Dalam Modul 3.3 tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid, ada tujuh aset atau modal yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sekolah, antara lain: modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, modal agama dan budaya. Dengan mengetahui dan memahami modal atau sumber daya yang ada di sekolah, maka sebagai pemimpin guru bisa memetakan tujuh aset tersebut dan mengoptimalkan pengelolaannya untuk peningkatan pembelajaran di sekolah.

Setelah melihat keterkaitan antara modul ini dengan modul-modul lainnya, jelaskanlah perspektif Anda tentang program yang berdampak positif pada murid. Bagaimana seharusnya program-program atau kegiatan sekolah harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi agar program-program tersebut dapat berdampak positif pada murid?

Dari pemaparan saya di atas sudah terlihat keterkaitan antarmodul. Mempelajari modul – modul yang ada memberikan arah terwujudnya visi Pendidikan Indonesia sesuai dengan yang diamanatkan Ki Hajar Dewantara sebagaimana dalam filosofinya. Kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa penyusunan program sekolah perlu mempertimbangkannya secara matang agar dapat memberikan dampak yang positif bagi murid.

Dari sini terlihat peran guru sangat besar untuk mengembangkan diri untuk meningkatkan kualitas murid melalui program tersebut. Pengalaman masa lalu membuat saya belum menjadi sosok guru sepenuhnya, dan itu membuat saya terus belajar dan akan terus belajar. 

Dengan perannya sebagai guru setelah belajar BAGJA, maka dalam menyusun program dengan mempertimbangkan suara murid direncanakan melalui tahapan BAGJA, dilaksanakann dengan melibatkan peserta didik secara langsung dan setelahnya dievaluasi melalui sembilan langkah tahapan pengujian dan pengambilan keputusan.

Berdasarkan langkah program yang direncanakan sekolah, maka saya akan berupaya memberikan dampak yang positif pada peserta didik. Dari hal tersebut sebagai guru penggerak dapat mengimplementasikan suara murid untuk menyusun suatu program yang nantinya diharapkan memberikan dampak positif dan kontribusi bagi murid.

Program andalan tersebut adalah Praktik-Praktik Budaya Toleransi yang merupakan program untuk menjaga harmonisasi pergaulan sosial di lingkungan kelas dan sekolah. Dengan program kegiatan tersebut, murid dapat terlibat membuat kriteria penilaian yang akan dilakukan oleh murid secara bergantian sesuai dengan jadwal.

Hasil yang dinilai bersama disampaikan secara langsung kepada kelas yang diobservasi, dan dilaporkan kepada Wakasek kesiswaan dan Kurikulum untuk selanjutnya dilaporkan ke wali kelas. Program ini disusun dengan memperhatikan tahapan BAGJA dengan harapan semua elemen tergerak dan bergerak baik dari murid maupun guru. Demikian pemaparan koneksi antarmateri Modul 33 dengan modul-modul sebelumnya. Semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca semua, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Koneksi antarmateri Modul 3.3


Analisis Video Praktik Baik 3.2

Analisis Video Praktik Baik 3.2

 Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.2

1. Apakah visi dari sekolah tempat guru dalam video Praktik baik pemanfaatan sumber daya sekolah?

Visi dari sekolah tempat guru dalam video tersebut adalah Mewujudkan kelas impian yang nyaman untuk belajar.

Visi Kelas Impian. (Gambar: canva.com)

2. Apakah prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru dalam tayangan video?
Prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru tersebut yaitu bagaimana upaya untuk mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk pembelajaran.

3. Apakah pertanyaan utama dari kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?
Pertanyaan utamanya adalah bagaimana langkah-langkah untuk mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk pembelajaran yang berpihak pada murid?

4. Kegiatan/tindakan apa yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video yang menggambarkan tahapan: BAGJA

Kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video berdasarkan tahapan BAGJA yaitu:

B (Buat Pertanyaan Utama):

Guru mengajak rekan sejawat untuk merumuskan pertanyaan utama dari prakarsa perubahan yang dilakukan.

A (Ambil Pelajaran)

  • a. Guru memberikan pertanyaan untuk menggali informasi dan menggali pengalaman belajar murid.
  • b. Murid diajak untuk mengambil pelajaran dari kelas lain untuk menambah inspirasi kelas yang membuat semangat dengan mengadakan kunjungan ke kelas lain.
  • c. Murid mengidentifikasi ruang kelas 2 dan 6 dan mencatat tentang apa yang mereka sukai di kelas tersebut yang dapat dijadikan penyemangat belajar.
  • d. Murid juga dapat bertanya kepada siswa yang berada di kelas itu tentang apa yang mereka sukai di kelasnya. Pada kegiatan ini guru membagi siswa menjadi 4 kelompok.

G (Gali Mimpi)

  • a. Guru meminta murid untuk mengambil alat dan bahan yang sudah disiapkan untuk setiap kelompok.
  • b. Guru meminta murid untuk menutup mata mereka dan membayangkan kira-kira kelas seperti apa yang nyaman dan menyenangkan serta menjadi penyemangat dalam belajar.
  • c. Guru meminta murid bekerja secara berkelompok untuk menggambarkan kelas yang nyaman sesuai dengan impian yang murid bayangkan.
  • d. Guru meminta murid untuk menjelaskan di depan kelas terkait kelas impiannya.

J (Jabarkan Rencana)

  • a. Guru mengajak murid untuk berkomitmen menentukan kebutuhan apa sajakah yang harus dipersiapkan untuk mewujudkan kelas impian mereka.
  • b. Guru mengajak murid untuk membuat daftar rencana apa yang harus dilakukan untuk kelas impian mereka
  • c. Guru bertanya kepada murid tentang bagaimana cara mewujudkan kelas impian.
  • d. Guru menuliskan jawaban-jawaban harapan yang dimiliki murid di papan tulis seperti: lantai yang bersih, dinding yang penuh hiasan, kursi yang bisa diubah-ubah, adanya rak buku, dll.

A (Atur Eksekusi)

  • a. Guru memberi kesempatan murid untuk berpikir bagaimana menentukan pembagian tugas dalam kelompok.
  • b. Guru menulis terkait tugas yang dimiliki oleh setiap kelompok di papan tulis diantaranya:
Kelompok 1 membersihkan kelas.
Kelompok 2 membuat hiasan dinding
Kelompok 3 menyusun bangku
Kelompok 4 menyusun buku

  • c. Guru dan murid menyepakati waktu pelaksanaan atas pemenuhan tugas yang telah diberikan.
  • d. Guru meminta murid menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.

5. Apakah peran pemimpin pembelajaran yang tergambar dalam tayangan video?

Peran pemimpin ditunjukan oleh seorang guru yang berperan sebagai pemimpin pembelajaran di kelas berupaya mewujudkan prakarsa perubahan yang disepakatinya dengan memanfaatkan segala potensi dan aset yang telah dimiliki oleh lingkungan sekitar sekolah sebagai kekuatan untuk maju.

6. Apa saja modal utama yang dimanfaatkan oleh pemimpin pembelajaran dalam tayangan video,kemudan bagaimana pemanfataannya?

Berbagai modal yang dikelola untuk mendukung pembelajaran di sekolah antara lain:

a. Modal Manusia

Modal utama yang dimanfaatkan oleh pemimpin pembelajaran dalam video tersebut adalah modal manusia (SDM) sebagai unsur biotik dalam ekosistem sekolah. Guru menggunakan pendekatan berbasis aset dengan berupaya menemukenali hal-hal positif yang ada di lingkungan sekolah. Kemudian guru menumbuhkan komitmen pada diri murid untuk bergotong royong mewujudkan kelas yang menjadi impian para murid.

b. Modal Sosial

Guru berkolaborasi dengan rekan sejawatnya untuk merumuskan prakarsa perubahan dengan menggali sumber belajar dari kelas lain, tentunya dengan meminta izin kepada guru kelas yang akan dikunjungi oleh para muridnya pada kegiatan kunjungan kelas.

c. Modal Fisik

Ruang kelas yang merupakan bagian dari aset tidak bergerak yaitu gedung sekolah yang digunakan untuk ruang belajar. Ornamen hiasan dinding yang ada dapat dimanfaatkan oleh murid untuk menutupi bagian dinding yang terlihat rusak. Rak buku dimanfaatkan untuk tempat meletakkan buku bacaan sebagai bahan bacaan murid atau pojok baca. Bangku dan meja yang dapat diatur sesuai dengan kesepakatan kelas.

d. Modal Lingkungan

Warga kelas memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekolah untuk mempercantik kelas menjadi impian murid secara bersama.

e. Modal Finansial

Uang kas kelas yang digunakan untuk membeli alat dan bahan yang diperlukan untuk menggambar kelas impian murid.

f. Modal Politik

Kebijakan kepala sekolah memberikan dukungan bagi guru untuk melakukan perubahan positif untuk meningkatkan semangat belajar para murid guna peningkatan kualitas pembelajaran. Hal itu duperkuat dengan dukungan orang tua berupa pemberian izin dan kemudahan belajar.

g. Modal Agama dan Budaya

Budaya sopan dan santun diterapkan guru sebelum masuk ke dalam kelas. Murid juga menyambutnya dengan ramah atau menghargai guru. Ada juga budaya gotong royong yang diterapkan oleh murid untuk mewujudkan kelas impian sesuai keinginan mereka. 


RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

Education is the art of making man ethical. (Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis).  ~ George Wilhelm Friedrich Hegel ~ 

Mendidik adalah seni dalam membelajarkan sebuah nilai dan konten materi. Pendekatan atas tinjauan tersebut berupa koneksi antar materi pada modul 3.1 Pendidikan Guru Penggerak tentang pengambilan keputusan. Berikut adalah pertanyaan dan jawaban yang akan dibahas.

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
   
Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan tentu dipengaruhi oleh nilai-nilai, baik dalam situasi dilema etika benar lawan benar maupun bujukan moral benar lawan salah.
Prinsip dalam mengambil keputusan yang mengandung situasi dilema etika dipengaruhi nilai-nilai yang diyakini dan berlaku. Dalam pengambilan keputusan, seseorang harus memperhatikan dan menimbang nilai-nilai kebajikan universal yang dipedomani. Oleh karena itu, penting untuk memupuk nilai-nilai positif dalam diri dan lingkungan kita dengan harapan dapat menjiwai setiap keputusan yang diambil berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan.

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.

Nilai-nilai positif tersebut merupakan manifestasi dan implementasi dari pembelajaran sosial dan emosional serta keterampilan pengambilan keputusan dengan kesadaran penuh (mindfulnes) untuk meminimalisasi kesalahan dan resiko yang dihasilkan. Coaching adalah suatu keterampilan dalam menggali potensi oleh coach pada coachee. Melalui teknik coaching dengan alur TIRTA akan diperoleh pemecahan masalah secara sistematis dan terukur. Coaching alur TIRTA bagus apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah pengambilan keputusan sehingga diperoleh keputusan yang terbaik.

Efektivitas pengambilan keputusan dapat dilihat dari segi proses, hasil dan tindak lanjut. Pendekatan proses dalam pengambilan putusan dimulai dengan identifikasi dan analisis permasalahan. Komunikasi dan interaksi dengan stakeholder penting dilakukan agar terwujud keputusan yang tepat atau sesuai. Hasil pengambilan keputusan dapat dilakukan melalui lisan maupun tulisan, namun apabila berimplikasi ke arah kebijakan maka sebaiknya disertai naskah atau tulisan resmi agar lebih memiliki kekuatan (hukum). Tindak lanjut penting untuk mensosialisasikan hasil putusan dan melihat apakah keputusan dapat dijalankan dengan baik atau hanya sekedar putusan saja. Untuk melaksanakan keputusan diperlukan alat pelaksana seperti tim pemantau atau evaluasi, tingkat kepuasan, dll. Coaching dapat digunakan juga untuk menggali permasalahan dan penerapan tindak lanjut keputusan.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru perlu dilatih meskipun sebenarnya sudah mengetahui dan melaksanakan beberapa teknik sosial emosional. Kemampuan sosial emosional diperlukan untuk mengembangkan ESQ dan kemampuan sosial-emosional untuk membelajarkan kemampuan manajemen diri dan bersosialisasi atau bermasyarakat sesuai dengan lingkungannya. Permasalahan dilema etika pada unsur care atau kepedulian sosial dan etika dapat diberikan solusi melalui kepedulian sosial dan individu.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembelajaran yang berpihak pada peserta didik diwujudkan melalui sebuah keputusan yang terencana. Guru sebagai pemimpin pembelajaran diharapkan mampu melihat permasalahan dari berbagai sisi sehingga dapat membedakan permasalahan tersebut apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral. Sebelum pengambilan keputusan dapat melakukan pengujian dengan sembilan langkah pengambilan keputusan. Ketepatan pengambilan keputusan didasarkan tidak hanya nilai-nilai positif yang dianut, namun juga komunikasi dan korrdinasi yang baik. Dengan itu maka pengambilan keputusan dapat dilakukan secara tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Pengambilan keputusan yang tepat adalah benar prosesnya, akurat keputusannya dan tindak lanjut yang terkontrol. Dampak dari keputusan dapat dilihat dari akibat positif yang ditimbulkan dan permasalahan itu selesai dengan cara yang diinginkan. Dampak positif juga sebaiknya menimbulkan efek jera bagi pelanggar dan bernilai edukasi bagi pelanggar maupun orang lain.

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan berasal dari diri maupun luar atau lingkungan. Beragam tantangan dari diri seperti bagaimana menjadi guru yang profesional, kreatif, berpihak pada siswa, dll. Apabila mampu mengatasi tantangan maka akan dapat mengatasi permasalahan dilema etika terutama dalam pembelajaran. 

Tantangan kedua adlaah yang dihadapi terkait adanya perubahan paradigma dan budaya sekolah. Perubahan paradigma itu memaksa guru untuk membuat keputusan yang kurang tepat dan belum berpihak pada murid. Ada bebrapa warga sekolah yang belum berkomitmen untuk menjalankan keputusan bersama. Keputusan yang diambil melibatkan warga sekolah sehingga banyak kendala yang dihadapi dalam pengambilan keputusan dapat diatasi.

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Keputusan yang baik berdasarkan nilai-nilai di atas yang telah kita bahas, tentu dengan harapan memerdekakan murid-murid kita. Apabila belum memerdekakan maka keputusan yang diambil guru besar kemungkinanya belum tepat karena ada faktor yang menjadi pertimbangannya terlewatkan. Pembelajaran yang tepat adalah dengan menyesuaikan dengan kebutuhan dan situasi kondisi peserta didik yang diajarnya.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin mengutamakan keberpihakan pada murid dalam mengambil keputusan sehingga dapat dipastikan murid akan terlayani sehingga menjadi orang yang merdeka, mandiri, kreatif, dan inovatif dalam mengambil keputusan untuk mereka sendiri. Hal itu akan memuaskan berbagai pihak seperti siswa itu sendiri, orang tua dan masyarakat.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Pengambilan keputusan berlandaskan pada filosofi KHD dan berdasarkan budaya positif menggunakan alur BAGJA sehingga terwujud lingkungan yang aman dan nyaman (well being). Modul 3.1 ini berkaitan dengan modul sebelumnya sehingga secara holistik yang kita pelajari akan menjadi paket komplit.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Menurut saya ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya didasarkan pada pemikiran dan pertimbangan semata, namun diperlukan adanya paradigma, prinsip, dan langkah-langkah pengujian pengambilan keputusan, agar keputusan yang diambil tepat sasaran dan bermanfaat untuk orang banyak. Secara personal, dalam pengambilan keputusan diperlukan suatu sikap keberanian dengan segala konsekwensinya namun terencana.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Saya pernah mengambil keputusan dengan situasi dilema etika, saya melakukan langkah hanya sebatas pada pemikiran yang didukung dengan beberapa pertimbangan. Saya sudah merasa aman bila keputusan yang saya ambil sudah sesuai aturan dan tidak berdampak merugikan banyak orang. Dengan mempelajari modul ini saya menjadi punya amunisi pengetahuan tentang mempraktikkan bagaimana cara pengambilan keputusan yang tepat dengan menggunakan langkah-langkah tertentu yang tak lepas dari paradigma dan prinsip-prinsip yang ada. Simpulannya, ada banyak perbedaan dengan sebelum belajar modul ini dengan setelahnya.

Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Konsep modul ini memberikan dampak yang besar bagi pola pikir saya dalam pengambilan keputusan. Sebelumnya pengambilan keputusan yang telah didasarkan regulasi dan sosial saja sudah cukup, ternyata banyak hal yang menjadi dasar pertimbangan. Dalam konteks ini terdapat 4 paradigma dilema etika yaitu: individu lawan kelompok (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) yang semuanya didasari atas 3 prinsip dan sembilan langkah.

Saya akan mengimplementasikan landasan tersebut dalam setiap pengambilan keputusan baik sebagai pemimpin pembelajaran maupun dalam pengambilan kebijakan di sekolah dan komuni tas MGMP. Saya percaya bahwa keputusan yang diambil akan tepat dan lebih akurat dengan selalu berpihak pada murid dan bermanfaat.

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Modul 3.1 bagi sangat penting dan bermakna, karena dimanapun peran dan keberadaan kita pasti akan menjumpai permasalahan yang dituntut untuk mengambil keputusan, bahkan dilema etika. Dari keputusan tersebut akan dihasilkan kebijakan-kebijakan yang akan mewarnai perjalanan sekolah untuk mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu, maka seorang guru harus memiliki keterampilan dalam pengambilan keputusan yang mengandung nilai-nilai kebajikan. Sebagai landasan dalam pengambilan keputusan tersebut tentunya mengacu pada 9 langkah 4 paradigma dan 3 prinsip.

Selain itu keputusan diambil melalui tiga alat uji yaitu: Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking), Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir dan Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking).

Demikian koneksi antarmateri yang saya deskripsikan, saya masih perlu untuk belajar lebih banyak terutama modul 3.2 dan 3.3. Untuk itu mohon bantuannyanya agar termotivasi bagi saya untuk selalu tergerak belajar dan melakukan aktivitas yang bermanfaat. Guru tergerak, bergerak dan menggerakan. Guru bergerak Indonesia maju. Maju, maju, maju berdasarkan Pancasila.

Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-Nilai Kebajikan

Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-Nilai Kebajikan

Sebuah demonstrasi kontekstual Modul 3.1

Penulis melakukan analisis atas penerapan proses pengambilan keputusan berdasarkan pengetahuan yang telah dipelajari tentang berbagai paradigma, prinsip, pengambilan dan pengujian keputusan di sekolah asal masing-masing dan di sekolah lain.

Saat ini, penulis sedang mempelajari Modul 3.1 tentang pengambilan keputusan. Penulis diharapkan menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang mampu mengambil keputusan dalam situasi dan kasus apapun meskipun ada dilema bahkan trilema. Oleh karena itu, modul 3.1 sangat bermanfaat.

Penulis melakukan wawancara dengan dua pimpinan (kepala sekolah) di lingkungan SMA (salah satunya adalah pimpinan di sekolah asal penulis). Kemudian analisis dan lakukan refleksi atas hasil wawancara tersebut dan kaitkan dengan pengetahuan tentang 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian.

Berikut adalah hasil wawancara dengan Kepala SMA Negeri 5 Semarang, Dra. Siti Asiyah, MM, M.Pd, pada hari Kamis siang, 21 April 2023.


Ibu Asiyah, KS SMAN 5 Semarang

Sedangkan berikut ini adalah hasil wawancara dengan Kepala SMA Negeri 9 Semarang, Noor Taufik Saleh, S.Pd, M.Pd, pada hari Kamis pagi, 21 April 2023.

Pak Taufik

Pak Taufik, KS SMAN 9 Semarang

Pada hasil wawancara dengan kedua kepala sekolah telah menjawab untuk pertanyaan bagaimana mengidentifikasi terhadap kasus-kasus dilemma etika dan bujukan moral. Kedua kepala sekolah melakukan analisis kasus dengan lebih dulu identifikasi terhadap masalah, penelaahan, meminta pertimbangan dari pihak yang terkait, menentukan alternatif pilihan, dan eksekusi pilihan putusan secara berhati-hati.

Menurut beliau berdua bahwa dilema etika merupakan tantangan yang tentu akan dijumpai dan harus dihadapi. Penulis selama menimba pengalaman di institusi pendidikan tentu juga menghadapi hal tersebut. Selain itu, mungkin saja juga ditemukan dilema yang berkaitan dengan nilai-nilai kebaikan mendasar yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan akan hidup.

Kedepannya dalam pengambil keputusan harus mampu menyelaraskan dengan visi dan misi yang sudah disepakati sehingga segala keputusan yang diambil jelas dan sesuai dengan harapan semua pihak. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah seberapa bermanfaat keputusan sehingga mampu memberikan solusi atas segala permasalahan ataupun dilema yang dihadapi.

Bujukan Moral dan Dilema etika

Penulis mencatat terdapat dua situasi dan kondisi saat kepala sekolah yang diinterview dituntut menjadi pengambil keputusan, yakni Bujukan Moral dan Dilema etika. Bujukan Moral merupakan situasi pengambilan keputusan saat seseorang dihadapkan pada kasus benar melawan salah. Sedangkan Dilema Etika adalah sebuah situasi saat seseorang dihadapkan pada keadaan yang keduanya benar namun bertentangan dalam pengambilan keputusan.

Dari kondisi di atas, kita sering dihadapkan dengan dilema etika yang menuntut sikap bijak dalam mengatasinya. Hal dikarenakan dilema etika merupakan situasi yang sering dihadapi, dan tidak sedikit dihadapkan dengan pertentangan antara cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, toleransi, kesetiakawanan, tanggung jawab, dan aktualisasi hidup.

Meskipun demikian, beliau berdua memiliki persamaan dalam menganalisis kasus yaitu setiap kasus harus dilihat konteks dan sikon (situasi dan kondisi) yang dihadapi sehingga solusi bisa berbeda-beda namun dengan memperhatikan apakah perlu diberikan solusi sekarang (mendesak) atau dibutuhkan waktu, urgen atau tidak urgen, seberapa dampak kasus, dll. Bapak Taufik menambahkan juga nilai edukasi bagi guru atau murid dari solusi yang dipilih agar menjadi pembelajaran semua.

Paradigma, Prinsip, dan Langkah Pengambilan Keputusan

Dalam menghadapi pengambilan keputusan seringkali bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika, yang walaupun sebenarnya prinsipnya tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Agar memiliki pemahaman yang baik tentang pengambilan keputusan, sudah seharusnya kita menghargai konsep dan prinsip etika yang universal dan disepakati bersama, seperti keadilan, tanggung jawab, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, kasih sayang, rajin, komitmen, percaya diri, kesabaran, dan masih banyak lagi.

Oleh karena itu, di dalam situasi dilema etika menyajikan paradigma, yaitu:

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Hal di atas disadari oleh kepala sekolah yang penulis wawancarai. Keduanya sepakat harus bijaksana dalam pengambilan dan pemilahan keputusan yang tepat. Keputusan dipandang tepat apabila menjadi dapat solusi dan memberikan efek seperti penyadaran bagi pelaku dan pembelajaran bagi yang bukan pelaku. Karena pada dasarnya kita semua adalah pembelajar.

Sementara itu, para kepala sekolah sepakat untuk pengambilan keputusan diperlukan prinsip-prinsip yang melandasinya. Terdapat tiga prinsip yang membantu dalam menghadapi sejumlah pilihan yang penuh dengan tantangan dalam pengambilan keputusan, yakni Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

Menurut Pak Taufik dan Ibu Asiyah bahwa segala keputusan yang diambil haruslah tepat, arif, dan bijaksana. Maka sebagai seorang pemimpin pembelajaran membutuhkan pengujian yang selaras dengan prinsip dasar pengambilan keputusan yang etis.

Sembilan Langkah Untuk Menguji Keputusan

Ada sembilan langkah untuk menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang terkadang menggiring kita ke dalam situasi dan nilai yang bertentangan. Kesembilan langkah tersebut antara lain:

  1. 1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
  2. 2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
  3. 3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
  4. 4. Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.
  5. 5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
  6. 6. Melakukan Prinsip Resolusi.
  7. 7. Investigasi Opsi Trilema.
  8. 8. Buat Keputusan.
  9. 9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.
Pak Taufik dan Ibu Asiyah setuju bahwa diperlukan analisis dalam menghadapi keputusan yang berdilema. Sembilan langkah tersebut menjadi pedoman langkan pengambilan keputusan. Meskipun demikian pengambilan putusan perlu komunikasi dengan pihak yang terkait baik secara horizontal (para wakil kepala sekolah, guru, bahkan bisa juga siswa) dan vertikal (Komite Sekolah, MKKS, Pejabat di atasnya). Keduanya mengamini bahwa komunikasi sangat penting. Namun ketegasan dalam pemberian putusan juga penting agar memiliki kejelasan putusan, konsekuensi, dan risiko. Risiko tentunya telah ditimbang dan diprediksi akibatnya.

Pemimpin pembelajaran dalam menentukan pengambilan keputusan dapat juga mengimplementasikan teknik coaching misalnya dalam supervise ataupun imbas dari pemberian putusan. Pendampingan dengan teknik coaching bisa membantu agar pelaku lebih sadar, mampu menghadapi risiko, dan tentunya tidak akan mengulanginya lagi. Penerapan pengambilan keputusan karena teknik coaching pun memiliki tujuan utama dalam mengatasi segala permasalahan yang dihadapi dengan efektif, efisien dan bersinggungan dengan dilema etika dalam sejumlah kasus.

Demikian isi wawancara penulis dengan kepala sekolah, tentu akan lebih lengkap apabila dilihat melalui video tersebut. Semoga tulisan dan wawancara ini dapat memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca dan pemirsa sekalian. Terima kasih.




ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik